Minggu, 17 Agustus 2014

and the story goes~

"sesungguhnya jika memang sudah ada jalannya, ga perlu lagi kita keluarkan effort lebih untuk berusaha. tapi sebaliknya, sekeras dan sekuat apapun kita berusaha tapi jika emang bukan jalannya, maka takkan pernah ada dan takkan pernah bisa."

saya percaya akan "jodoh ga akan kemana"

semalam saya mendengar cerita dari kawan saya, bahwa ada umat yang akan melangsungkan permberkatan pernikahan. singkat cerita, semua rencana yang tinggal menghitung hari itu pun gagal. batal. ga jadi. karena satu dan lain hal. denger-denger sih karena orang tua calon mempelai pria nya yang menjodohkan anaknya dengan perempuan lain. padahal kedua keluarga mempelai sama sama orang berada, sama sama berkecukupan. tapi faktanya?? semuanya batal gitu aja.

dari situ saya mulai percaya dan mulai ngerti, kenapa mama selalu bilang "liat karmanya aja" tiap ditanya anaknya ini kapan menikah. awalnya saya bingung, kenapa mama selalu menjawab seperti itu. tapi semakin kesini, semakin mata dan hati saya dibukakan akan apa yang sebenarnya terjadi. dari penghitungan cap ji shio saja saya sudah amat tidak cocok. juga kultur budaya saya sama dia yang jauh berbeda dan menyebabkan saya agak sulit berkomunikasi mengenai tradisi orang tionghoa seperti keluarga saya. belum lagi tekanan dan larangan yang selalu dia berikan. ya mungkin dia sperti itu karena dia sayang sama saya. tapi haruskan sayangnya menjadi mengekang saya?? membatasi saya bertemu dengan kawan sebaya saya misalnya, itupun harus melalui proses negoisasi yang cukup alot. belum lagi cemoohan dia mengenai postur saya yang memang cukup "berisi" dibanding wanita yang selama ini dia idamkan. 

belum lagi beberapa penolakan yang terjadi sama mama saya terhadap dia, untuk pergi pergi misalnya. selalu dibatasi dan selalu bilang "pulangnya jangan kemaleman". wajar sih, tapi awalnya saya ga nerima itu, dan saya mulai membangkang sama mama saya. saya merasa amat bersalah. saya cukup sering berdebat juga sama mama saya mengenai dia, pemikiran dia, serta tingkah laku, juga tentang shio saya yang ga hap dan berbagai kemalangan lain yang saya dan keluarga rasakan smenjak bersama dia. semakin saya berpikir, saya semakin merasa bahwa apa yang mama saya bilang ada benarnya. 

masalah pekerjaan pun juga menjadi hal yang alot antara mama saya dan dia. dia inginkan saya tetap bekerja di kantor saat ini.sedangkan mama ingin saya mencari pekerjaan baru. alasan mama, sayang ijazah sayang uang juga karena buat apa saya kuliah sampai S1 tapi gaji cuma sekian dan malah gaji saya dibilang ga memadai untuk lulusan S1. awalnya saya merasa amat terganggu dengan olokan mama yang seperti itu, tapi akhirnya saya mengerti, mama inginkan saya menjadi orang yang lebih baik lagi terutama pekerjaan saya. karena seperti yang mama bilang "nanti itu juga buat kebaikanmu sendiri". dari situ saya mulai sadar, beliau lah orang tua saya, beliau yang mengandung saya, yang melahirkan saya, yang membesarkan saya sampai saat ini, yang tau baik buruknya saya. bukan dia yang sepertinya belum bisa mendukung karir saya agar lebih baik lagi dan ga terjebak di zona nyaman. 

dan sejak dari malam itu saya sadar, sekuat apapun saya berusaha untuk mempertahankan hubungan ini, jika memang jalannya dari awal ga mulus, saya takut jika nanti saya sampai menikah dengannya saya ga bisa melakukan aktivitas yang saya sukai baik itu dengan mama saya dan adik serta dengan kawan kawan saya sperjuangan di organisasi kepemudaan yang saya jalani sekarang. 

"jodoh dan pertalian karma adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan", saya percaya itu. gimana dengan kamu? 

have a nice day :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar